Minggu, 20 Maret 2016
Senin, 14 Maret 2016
kisah Istighfar Mbah Kholil Bangkalan
Suatu hari Kyai Kholil kedatangan tiga tamu yang menghadap secara bersamaan. Sang kyai bertanya kepada tamu yang pertama:
Mbah Kholil : "Sampeyan ada keperluan apa?"Tamu 1 : "Saya pedagang, Kyai. Tetapi hasil tidak didapat, malah rugi terus-menerus," ucap tamu pertama.
Beberapa saat Kyai Kholil menjawab,
"Jika kamu ingin berhasil dalam berdagang, perbanyak baca istighfar,"
pesan kyai mantap.
Kemudian kyai bertanya kepada tamu kedua:Mbah Kholil : "Sampeyan ada keperluan apa?"
Tamu 2 : "Saya sudah berkeluarga selama 18 tahun, tapi sampai saat ini masih belum diberi keturunan," kata tamu kedua.
Setelah memandang kepada tamunya itu, Kyai Kholil menjawab,
"Jika kamu ingin punya keturunan, perbanyak baca istighfar," tandas kyai.
Kini, tiba giliran pada tamu yang ketiga. Kyai juga bertanya,
Mbah Kholil : "Sampeyan ada keperluan apa?"
Tamu 3 : "Saya usaha tani, Kyai. Namun, makin hari hutang saya makin banyak, sehingga tak mampu membayarnya, " ucap tamu yang ketiga, dengan raut muka serius."Jika kamu ingin berhasil dan mampu melunasi hutangmu, perbanyak baca istighfar," pesan kyai kepada tamu yang terakhir.
Berapa murid Kyai Kholil yang melihat peristiwa itu merasa heran. Masalah yang berbeda, tapi dengan jawaban yang sama, resep yang sama, yaitu menyuruh memperbanyak membaca istighfar.
Kyai Kholil mengetahui keheranan para santri. Setelah tamunya pulang, maka dipanggillah para santri yang penuh tanda tanya itu. Lalu, Kyai Kholil membacakan al-Qur’an Surat Nuh ayat 10-12 yang artinya: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu. dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”
Mendengar jawaban kyai ini, para santri mengerti bahwa jawaban itu memang merupakan janji Allah bagi siapa yang memperbanyak baca istighfar. Memang benar. Tak lama setelah kejadian itu, ketiga tamunya semuanya berhasil apa yang dihajatkan.
sumber: http://www.sarkub.com/2015/kisah-istighfar-mbah-kholil-bangkalan/
KH. ABDUL HANNAN MA’SHUM
Pendiri dan Pengasuh “Pesantren Fathul ‘Ulum” Kwagean Krenceng Kepung Kediri
Beliau dilahirkan di Boto Putih
Kecamatan Canggu (± 5 Km Sebelah utara Dusun Kwagean). Dengan nama Hanan
dari pasangan Bapak Ma’sum asal Boto Putih dan Ibu Siti Nu’amah (Wafat
pada hari Sabtu Malam Ahad tanggal 7 Agustus 2005 atau 2 Jumadil Akhiroh
1426 H.) asal Krecek Pare. Beliau adalah putra ke-4 dari 12 bersaudara,
yaitu:
- Bapak Khozin (Boto Putih)
- Ibu Binti ( Mangiran Pare)
- Agus Khodim (wafat pada usia 2 tahun)
- KH. Abdul Hannan Ma’shum (Pengasuh Pondok PFU)
- Agus Shohib (wafat pada umur 1 tahun)
- Ning Umaiyah (wafat pada umur setengah tahun)
- Agus Kholil (wafat pada umur 1 tahun)
- Ibu Istiqomah (Bringin Pare)
- Bapak Habib (Boto Putih)
- K. Romdli Anwar (Kebon Sari)
Sedang dua diantaranya sudah meninggal
dan belum diketahui namanya oleh penyusun. Ayah beliau sebagai buruh
tani dan penjual kelapa. Sedangkan Ibu beliau sebagai penjahit
kecil-kecilan dengan sebuah mesin jahit yang sudah usang serta berjualan
onde-onde di Pasar. Karena dilahirkan dan hidup dalam lingkungan yang
penuh dengan kesederhanaan, beliau rela menjadi buruh menanam singkong
di kebun orang lain dengan upah beberapa singkong saja, ini dilakukan
hingga beliau tamat SR (Sekolah Rakyat).
Berbudi luhur, tawadlu’ dan ketekunan
beliau sudah terlihat sejak kecil, bahkan kalau bicara dengan orang lain
beliau selalu menggunakan bahasa halus (Kromo Inggil). Sehingga orang
yang bertemu langsung mengenal bahwa ini adalah Hanan Putra bapak
Ma’sum. Masa kecil beliau tidak seperti anak kecil lainnya yang hanya
suka bermain, akan tetapi lebih suka membantu orang tua dengan
menggembala kambing, merumput, memelihara hewan peliharaan, seperti:
itik, ayam dan lain-lain, walaupun demikian beliau juga suka mecari
burung.
PERJALANAN MENCARI ILMU
Seperti kebiasaan anak-anak pada masa
itu, beliau juga sekolah di Sekolah Rakyat (sekarang SD) dengan guru
Bapak Jendol. Kemudian beliau meneruskan di Madrasah Wajib Belajar (MWB)
sampai tingkat MTT (Madrasah Tingkat Tinggi). Ditambah selama 8 tahun
dan tamat pada tahun 1965 M.
Dengan tekad yang kuat dan penuh. Pada
umur sekitar 12 tahun beliau melangkahkan kaki ke-PP. Roudlotul ‘Ulum
Kencong (sebelah timur Kwagean) yang diasuh oleh KH. Ahmadi dan KH.
Zamroji Syaerozi.
Di pesantren inilah beliau banyak
menimba ilmu kurang lebih 15 th. Sebelum mondok di Pesantren tersebut
beliau memang sudah dikenalkan dengan pengajian-pengajian didesanya
layaknya pengajian salaf di Pondok Pesantren oleh Kyai didesanya, beliau
sudah pernah mengaji “Sullam At-taufiq”, Tashrif istilahi dan lughowi
bahkan beliau menghafalnya, disamping itu juga beliau sudah pernah
mendapatkan ijazah serta mengamalkan Sholawat Nariyah 4444 x dalam satu
majelis. Dari barokah sholawat tersebut, pernah beliau dicari
teman-temannya, akan tetapi tidak bisa menemukannya, padahal beliau
hanya dikamar itu. Setelah yang mencari gurunya yang memberi amalan
tersebut (Mbah Dul) barulah mereka bisa menemukanya. Karena keadaan
ekonomi keluarga yang paspasan beliau jarang sekali mendapatkan kiriman
dari orang tua, hanya kadang kala dua atau tiga bulan sekali dikirim
beras dari rumah sekitar 10 Kg. dan 4/5 butir kelapa.
Dengan rasa penuh semangat adik beliau
(K. Romdli Anwar) selalu mengantarkan kiriman tersebut ke-Pondok
tersebut. Itupun hanya berjalan sekitar 6 tahun. Tepatnya pada Th.1971
M. .beliau dipanggil oleh Ibunda tercinta perasaan sedih dan kasihan
ibunda berkata ”Nak..! Wes, koe muliho wahe, Mak wes ora kuat ngragati maneh, gentenan karo adikmu”
(Nak…! Sekarang pulang saja, ibu sudah tidak mampu membiayaimu lagi,
gantian dengan adikmu. Red.). Dengan mantap dan tanpa rasa takut
sedikitpun beliau menjawab “Mak, kulo nyuwun pangestune mawon”
(Sudahlah Bu, saya minta do’a restunya saja, Red.). Bekal beliau
hanyalah tekad dan niat yang teguh. Dengan meneruskan belajarnya lagi ± 9
tahun. Dengan tekad yang kuat segala usahapun dilakukan demi
kesejahteraannya di-Pondok tanpa menggantungkan pada orang tua, dalam
masa itu beliau menjadi buruh menulis Kitab Alfiyah serta keteranganya,
± 100 buku pernah ditulisnya demi memenuhi kebutuhanya.
Selain usaha dzohir juga usaha batinpun dilakukannya, bermacam-macam riyadhohpun beliau jalani demi cita-cita, antara lain :- Puasa ngrowot ( makanan selain beras ) selama 41 hari berturut-turut + 10 Th.
- Puasa tarkudziruh ( makanannya tidak berasal dari hewani ).
- Puasa mutih selama 41 hari berturut-turut.
- Tidak pulang selama 3 Th.
- Sholat jamaah dengan menemui takbirotul ihromnya Imam ( + 3 Th).
- Khidmah. (Membantu dipesantren dan ndalem kyai )
Dengan semangat dan didasari kecintaan
pada ilmu beliau juga dapat menghafal Alfiyah 1002 bait dan ‘Uqudul
juman 1010 Bait. Pendidikan keras dan santun yang diajarkan sang guru
membentuk karakter beliau menjadi seorang yang demokratis dalam
berfikir. Beliau pernah dipanggil oleh pengasuh (KH. Zamroji) dan
dinasehati :
1) Saiki totonen kitabmu mulai cilik nganti gedhe (sekarang tatalah kitabmu mulai yang kecil sampai yang besar, red).2) Orausah poso-posoan, selagi iseh kuat bancik orausah mangan (tidak perlu berpuasa, selagi masih kuat berdiri jangan makan, red).
3) Nek dijalu’i ngaji sopowae gelemo, senajan jam 12 bengi (ketika dimintai mengaji siapa saja, terimalah meskipun jam 12 malam, red ).
Beliau merupakan orang yang mandiri dan
tekun, sebagai Abdul Hanan muda yang hormat dan sangat ta’zhim pada sang
guru. Beliau menunjukkan itu semua tak ketinggalan jiwa sosialnya, baik
pada teman/kawan santri maupun pada Pesantren yang membimbing dan
mendidiknya diantaranya sebagai tukang sapu, penimba kolah, pengajar
Al-Qur’an dan juga merangkap sebagai bendahara.
Dengan didasari ketekunan dan
keseriusan, beliau ditunjuk sebagai Kepala Madrasah dan Dewan Hakim,
disamping mengurus lampu-lampu untuk penerangan Pondok Pesantren.
Dari Pesantren kepelaminan.
Atas dukungan sang guru beliau dan
persetujuan orang tua dan keluarga dalam usia 27 tahun bulan Maulud
Thn. 1980 M. beliau dinikahkan oleh KH. Zamroji dengan dara ayu dari
Dusun Kwagean bernama Miftahul Munawaroh yang waktu itu masih berusia 16
Tahun, putri semata wayang dari pasangan H. Anwar dan Hj. Asmurah.
Setelah melangsungkan pernikahan, beliau
pindah dari Pondok kerumah mertua di-Kwagean barat. Dengan tanpa
meninggalkan belajarnya selama 22 tahun di Pondok Kencong. Dari hasil
pernikahan beliau itu, beliau dikaruniai putra dan putri yaitu :
- Agus Muhammad Miftahuddin Mukhtar
- Ning Nur Habibah (Almh.) wafat pada 11 Desember 1999
- Agus Muhammad Muhdlor
- Agus Muhammad Muslim
- Ning Rif’atul Hasanah Ulya
- Agus Muhammad Barizi
- Ning Zakiyyatul Millah
- Agus Muhammad Idris
- Agus Muhammad Baha’uddin
- Ning Dzurrotul Wafiyyah.
- Ning Fa’idatus Sirriyah.
- Agus Ahmad Muhammad
Selain mengaji di Pondok yang diasuh KH.
Ahmadi dan KH. Zamroji, beliau juga pernah mengaji tabarrukan Bulanan
di-Pondok lain seperti :
- Ponpes Bathoan asuhan KH. Jamal.
- Ponpes Mranggen asuhan KH. Muslih.
- Ponpes Lirboyo asuhan KH. Mahrus Ali.
- Ponpes Sarang, Dll.
EMBRIO PONDOK PESANTREN “FATHUL ‘ULUM“
Setelah melaksanakan pernikahan ± 15
hari beliau mengadakan pengajian dirumah mertua dengan peserta ± 96
peserta yang rata-rata usianya lebih tua daripada beliau. Pada waktu itu
ada diantara santri yang bernama Imam Mawardi, KH. Masruri (Banyumas)
dan Abdul Qodir (Bekasi) yang membuat brosur/plakat (surat edaran) tanpa
sepengetahuan beliau, sebanyak 45 kitab yang dikhatamkan dalam 11
bulan, yang waktu itu beliau menetap dirumah mertuanya ± 11 bulan.
Dengan bertambahnya santri dan kurangnya
sarana dan prasarana yang mamadai, akhirnya beliau berinisiatif untuk
pindah ke-Kwagean bagian utara. Karena sudah pisah dari orang tuanya dan
mertua, beliau harus berjuang mandiri baik tehadap sandang, papan, dan
pangan keluarga juga terhadap rutinitas pengajian bagi para santri.
Untuk bisa menopang semua kebutuhannya
dan keluarga, disamping berjuang tetap menjalankan rutinitas pengajian,
beliau menjalankan usaha kecil-kecilan dengan berjualan singkong goreng,
dengan hasil yang sangat minim beliau berusah mengumpulkan labanya
untuk modal usaha lain yang dapat memenuhi kebutuhan keluarga, akhirnya
beliau mencoba membudi dayakan ayam kampung, dengan penuh kesabaran
usaha tersebut berlanjut sampai-sampai beliau dapat membeli ayam ± 400
ekor untuk dijadikan bibit. Dengan usaha seperti itulah beliau jalani
tanpa rasa bosan, akhirnya laba dari penjualan sedikit demi sedikit
beliau kumpulkan untuk membeli sebidang tanah yang akhirnya menjadi Pondok Pesantren tercinta ini. sumber:http://www.kwagean.net/pesantren/biografi-pendiri/
BIOGRAFI KH. HAMIM TOHARI (GUS MIEK)
KH. Hamim Tohari Djazuli
atau akrab dengan panggilan Gus Miek lahir pada 17 Agustus 1940,beliau
adalah putra KH. Jazuli Utsman (seorang ulama sufi dan ahli tarikat
pendiri pon-pes Al Falah mojo Kediri), Gus Miek salah-satu tokoh
Nahdlatul Ulama (NU) dan pejuang Islam yang masyhur di tanah Jawa dan
memiliki ikatan darah kuat dengan berbagai tokoh Islam ternama,
khususnya di Jawa Timur. Maka wajar, jika Gus Miek dikatakan pejuang
agama yang tangguh dan memiliki kemampuan yang terkadang sulit dijangkau
akal. Selain menjadi pejuang Islam yang gigih, dan pengikut hukum agama
yang setia dan patuh, Gus Miek memiliki spritualitas atau derajat
kerohanian yang memperkaya sikap, taat, dan patuh terhadap Tuhan. Namun,
Gus Miek tidak melupakan kepentingan manusia atau intraksi sosial
(hablum minallah wa hablum minannas). Hal itu dilakukan karena Gus Miek
mempunyai hubungan dan pergaulan yang erat dengan (alm) KH. Hamid
Pasuruan, dan KH. Achmad Siddiq, serta melalui keterikatannya pada
ritual ”dzikrul ghafilin” (pengingat mereka yang lupa).Gerakan-gerakan spritual Gus Miek inilah, telah menjadi budaya di kalangan Nahdliyin (sebutan untuk warga NU), seperti melakukan ziarah ke makam-makam para wali yang ada di Jawa maupun di luar Jawa. Hal terpenting lain untuk diketahui juga bahwa amalan Gus Miek sangatlah sederhana dalam praktiknya. Juga sangat sederhana dalam menjanjikan apa yang hendak didapat oleh para pengamalnya, yakni berkumpul dengan para wali dan orang-orang saleh, baik di dunia maupun akhirat.
sumber: http://islamnusantara.damai.id/2015/06/17/biografi-gus-miek/
Biografi KH Hasyim Asy’ari Pendiri NU Tebuireng Jombang
Kyai
Haji Mohammad Hasyim Asy’ari, bagian belakangnya juga sering dieja
Asy’ari atau Ashari, lahir 10 April 1875 (24 Dzulqaidah 1287H) dan wafat
pada 25 Juli 1947; dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang, adalah pendiri
Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia.
Riwayat Keluarga
KH Hasyim Asy’ari adalah putra ketiga dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Kyai Asyari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, Hasyim merupakan keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang). Hasyim adalah putra ketiga dari 11 bersaudara. Namun keluarga Hasyim adalah keluarga Kyai. Kakeknya, Kyai Utsman memimpin Pesantren Nggedang, sebelah utara Jombang. Sedangkan ayahnya sendiri, Kyai Asy’ari, memimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Dua orang inilah yang menanamkan nilai dan dasar-dasar Islam secara kokoh kepada Hasyim.
KH Hasyim Asy’ari adalah putra ketiga dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Kyai Asyari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, Hasyim merupakan keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang). Hasyim adalah putra ketiga dari 11 bersaudara. Namun keluarga Hasyim adalah keluarga Kyai. Kakeknya, Kyai Utsman memimpin Pesantren Nggedang, sebelah utara Jombang. Sedangkan ayahnya sendiri, Kyai Asy’ari, memimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Dua orang inilah yang menanamkan nilai dan dasar-dasar Islam secara kokoh kepada Hasyim.
Silsilah Nasab
Merunut kepada silsilah beliau, melalui Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin) KH Hasyim Asy’ari memiliki garis keturunan sampai dengan Rasulullah dengan urutan lanjutan sebagai berikut:
Merunut kepada silsilah beliau, melalui Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin) KH Hasyim Asy’ari memiliki garis keturunan sampai dengan Rasulullah dengan urutan lanjutan sebagai berikut:
Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin)
Abdurrohman / Jaka Tingkir (Sultan Pajang)
Abdul Halim (Pangeran Benawa)
Abdurrohman (Pangeran Samhud Bagda)
Abdul Halim
Abdul Wahid
Abu Sarwan
KH. Asy’ari (Jombang)
KH. Hasyim Asy’ari (Jombang)
Abdurrohman / Jaka Tingkir (Sultan Pajang)
Abdul Halim (Pangeran Benawa)
Abdurrohman (Pangeran Samhud Bagda)
Abdul Halim
Abdul Wahid
Abu Sarwan
KH. Asy’ari (Jombang)
KH. Hasyim Asy’ari (Jombang)
Menurut catatan nasab Sa’adah BaAlawi
Hadramaut, silsilah dari Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin) merupakan
keturunan Rasulullah SAW, yaitu sebagai berikut:
Husain bin Ali
Ali Zainal Abidin
Muhammad al-Baqir
Ja’far ash-Shadiq
Ali al-Uraidhi
Muhammad an-Naqib
Isa ar-Rumi
Ahmad al-Muhajir
Ubaidullah
Alwi Awwal
Muhammad Sahibus Saumiah
Alwi ats-Tsani
Ali Khali’ Qasam
Muhammad Shahib Mirbath
Alwi Ammi al-Faqih
Abdul Malik (Ahmad Khan)
Abdullah (al-Azhamat) Khan
Ahmad Syah Jalal (Jalaluddin Khan)
Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar)
Maulana Ishaq
dan ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri)
Ali Zainal Abidin
Muhammad al-Baqir
Ja’far ash-Shadiq
Ali al-Uraidhi
Muhammad an-Naqib
Isa ar-Rumi
Ahmad al-Muhajir
Ubaidullah
Alwi Awwal
Muhammad Sahibus Saumiah
Alwi ats-Tsani
Ali Khali’ Qasam
Muhammad Shahib Mirbath
Alwi Ammi al-Faqih
Abdul Malik (Ahmad Khan)
Abdullah (al-Azhamat) Khan
Ahmad Syah Jalal (Jalaluddin Khan)
Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar)
Maulana Ishaq
dan ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri)
Pendidikan :
Sejak anak-anak, bakat kepemimpinan dan kecerdasan Hasyim memang sudah nampak. Di antara teman sepermainannya, ia kerap tampil sebagai pemimpin. Dalam usia 13 tahun, ia sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar ketimbang dirinya. Usia 15 tahun Hasyim meninggalkan kedua orang tuanya, berkelana memperdalam ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Mula-mula ia menjadi santri di Pesantren Wonokoyo, Probolinggo. Kemudian pindah ke Pesantren PP Langitan, Widang, Tuban. Pindah lagi Pesantren Trenggilis, Semarang. Belum puas dengan berbagai ilmu yang dikecapnya, ia melanjutkan di Pesantren Kademangan, Bangkalan di bawah asuhan KH Cholil Bangkalan.
Sejak anak-anak, bakat kepemimpinan dan kecerdasan Hasyim memang sudah nampak. Di antara teman sepermainannya, ia kerap tampil sebagai pemimpin. Dalam usia 13 tahun, ia sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar ketimbang dirinya. Usia 15 tahun Hasyim meninggalkan kedua orang tuanya, berkelana memperdalam ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Mula-mula ia menjadi santri di Pesantren Wonokoyo, Probolinggo. Kemudian pindah ke Pesantren PP Langitan, Widang, Tuban. Pindah lagi Pesantren Trenggilis, Semarang. Belum puas dengan berbagai ilmu yang dikecapnya, ia melanjutkan di Pesantren Kademangan, Bangkalan di bawah asuhan KH Cholil Bangkalan.
KH Hasyim Asyari belajar dasar-dasar
agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin Pesantren
Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun, beliau berkelana menimba ilmu
di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Wonokoyo di Probolinggo,
Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren
Kademangan di Bangkalan dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo.
Tak lama di sini, Hasyim pindah lagi di
Pesantren Siwalan, Sidoarjo. Di pesantren yang diasuh Kyai Ya’qub
inilah, agaknya, Hasyim merasa benar-benar menemukan sumber Islam yang
diinginkan. Kyai Ya’qub dikenal sebagai ulama yang berpandangan luas dan
alim dalam ilmu agama. Cukup lama –lima tahun– Hasyim menyerap ilmu di
Pesantren Siwalan. Dan rupanya Kyai Ya’qub sendiri kesengsem berat
kepada pemuda yang cerdas dan alim itu. Maka, Hasyim bukan saja mendapat
ilmu, melainkan juga istri. Ia, yang baru berumur 21 tahun, dinikahkan
dengan Chadidjah, salah satu puteri Kyai Ya’qub. Tidak lama setelah
menikah, Hasyim bersama istrinya berangkat ke Mekkah guna menunaikan
ibadah haji. Tujuh bulan di sana, Hasyim kembali ke tanah air, sesudah
istri dan anaknya meninggal.
Tahun 1893, ia berangkat lagi ke Tanah
Suci. Sejak itulah ia menetap di Mekkah selama 7 tahun dan berguru pada
Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudz At-Tarmasi, Syaikh Ahmad
Amin Al Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh
Rahmaullah, Syaikh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin
Ahmad As Saqqaf, dan Sayyid Husein Al Habsyi. Tahun l899 pulang ke
Tanah Air, Hasyim mengajar di pesanten milik kakeknya, Kyai Usman. Tak
lama kemudian ia mendirikan Pesantren Tebuireng, Jombang. Kyai Hasyim
bukan saja Kyai ternama, melainkan juga seorang petani dan pedagang yang
sukses. Tanahnya puluhan hektar. Dua hari dalam seminggu, biasanya Kyai
Hasyim istirahat tidak mengajar. Saat itulah ia memeriksa
sawah-sawahnya. Kadang juga pergi Surabaya berdagang kuda, besi dan
menjual hasil pertaniannya. Dari bertani dan berdagang itulah, Kyai
Hasyim menghidupi keluarga dan pesantrennya.
Silsilah Keilmuan
KH Muhammad Saleh Darat, Semarang
KH Cholil Bangkalan
Kyai Ya’qub, Sidoarjo
Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau
Syaikh Mahfudz At-Tarmasi
Syaikh Ahmad Amin Al Aththar
Syaikh Ibrahim Arab
Syaikh Said Yamani
Syaikh Rahmaullah
Syaikh Sholeh Bafadlal
Sayyid Abbas Al Maliki
Sayyid Alwi bin Ahmad As Segaf
Sayyid Husain Al Habsyi
Sayyid Sulthan Hasyim al-Daghistani
Sayyid Abdullah al-Zawawi
Sayyid Ahmad bin Hasan al-Atthas
Sayyid Abu Bakar Syatha al-Dimyathi
Memperoleh ijazah dari Habib Abdullah bin Ali Al Haddad
KH Cholil Bangkalan
Kyai Ya’qub, Sidoarjo
Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau
Syaikh Mahfudz At-Tarmasi
Syaikh Ahmad Amin Al Aththar
Syaikh Ibrahim Arab
Syaikh Said Yamani
Syaikh Rahmaullah
Syaikh Sholeh Bafadlal
Sayyid Abbas Al Maliki
Sayyid Alwi bin Ahmad As Segaf
Sayyid Husain Al Habsyi
Sayyid Sulthan Hasyim al-Daghistani
Sayyid Abdullah al-Zawawi
Sayyid Ahmad bin Hasan al-Atthas
Sayyid Abu Bakar Syatha al-Dimyathi
Memperoleh ijazah dari Habib Abdullah bin Ali Al Haddad
Penerus Beliau
(Murid) :
(Murid) :
Ribuan santri menimba ilmu kepada Kyai
Hasyim dan setelah lulus dari pesantren Tebuireng, Jombang, tak sedikit
di antara santri Kyai Hasyim kemudian tampil sebagai tokoh dan ulama
kondang dan berpengaruh luas, antara lain:
KH Abdul Wahab Hasbullah, Pesantren Tambak Beras, Jombang
KH Bisri Syansuri, Pesantren Denanyar, Jombang
KH R As’ad Syamsul Arifin
KH Wahid Hasyim (anaknya)
KH Achmad Shiddiq
Syekh Sa’dullah al-Maimani (mufti di Bombay, India)
Syekh Umar Hamdan (ahli hadis di Makkah)
Al-Syihab Ahmad ibn Abdullah (Syiria)
KH R Asnawi (Kudus)
KH Dahlan (Kudus)
KH Shaleh (Tayu)
KH Bisri Syansuri, Pesantren Denanyar, Jombang
KH R As’ad Syamsul Arifin
KH Wahid Hasyim (anaknya)
KH Achmad Shiddiq
Syekh Sa’dullah al-Maimani (mufti di Bombay, India)
Syekh Umar Hamdan (ahli hadis di Makkah)
Al-Syihab Ahmad ibn Abdullah (Syiria)
KH R Asnawi (Kudus)
KH Dahlan (Kudus)
KH Shaleh (Tayu)
(Keturunan)
Berikut disampaikan silsilah keturunan beliau sampai dengan tingkat cucu
Berikut disampaikan silsilah keturunan beliau sampai dengan tingkat cucu
Nyai Khodijah, istri pertama yang
merupakan putri dari Kyai Ya’qub, Sidoarjo. Meninggal dunia sewaktu Kyai
Hasyim Asy’ari menuntut ilmu di Mekkah
Nyai Nafiqoh, istri kedua, setelah istri pertama wafat, yaitu putri dari Kyai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan Madiun.
Nyai Nafiqoh, istri kedua, setelah istri pertama wafat, yaitu putri dari Kyai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan Madiun.
Putra-putri dari Nyai Nafiqoh
(1) Hannah
(2) Khoiriyah
(3) Aisyah
(4) Azzah
(5) Abdul Wahid atau sering juga dipanggil sebagai Wahid Hasyim
(6) Abdul Hakim (Abdul Kholik)
(7) Abdul Karim
(8) Ubaidillah
(9) Mashuroh
(10) Muhammad Yusuf
(1) Hannah
(2) Khoiriyah
(3) Aisyah
(4) Azzah
(5) Abdul Wahid atau sering juga dipanggil sebagai Wahid Hasyim
(6) Abdul Hakim (Abdul Kholik)
(7) Abdul Karim
(8) Ubaidillah
(9) Mashuroh
(10) Muhammad Yusuf
Nyai Masruroh, istri ketiga, setelah
istri kedua wafat, yaitu putri dari Kyai Hasan, pengasuh pengasuh Pondok
Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri. Dari pernikahan ini, Kyai Hasyim
dikarunia 4 orang putra-putri, yaitu:
(1) Abdul Qodir
(2) Fatimah
(3) Khotijah
(4) Muhammad Ya’kub
(2) Fatimah
(3) Khotijah
(4) Muhammad Ya’kub
Jasa dan Karya Beliau !
Jasa Bagi Ahlussunnah wal Jamaah:
Komite Hijaz, sebagai Benteng Islam Tradisional
Jasa Bagi Ahlussunnah wal Jamaah:
Komite Hijaz, sebagai Benteng Islam Tradisional
Sejarah Nahdlatul Ulama dan Kebangsaan serta Komite Hijaz
Kemampuannya dalam ilmu hadits, diwarisi
dari gurunya, Syaikh Mahfudz At-Tarmasi di Mekkah. Selama 7 tahun Hasyim
berguru kepada Syaikh ternama asal Pacitan, Jawa Timur itu. Disamping
Syaikh Mahfudh, Hasyim juga menimba ilmu kepada Syaikh Ahmad Khatib
Minangkabau. Kepada dua guru besar itu pulalah Kyai Ahmad Dahlan,
pendiri Muhammadiyah, berguru. Jadi, antara KH Hasyim Asy’ari dan KH
Ahmad Dahlan sebenarnya tunggal guru.
Yang perlu ditekankan, saat Hasyim
belajar di Mekkah, Muhammad Abduh sedang giat-giatnya melancarkan
gerakan pembaharuan pemikiran Islam. Dan sebagaimana diketahui, buah
pikiran Abduh itu sangat mempengaruhi proses perjalanan ummat Islam
selanjutnya. Sebagaimana telah dikupas Deliar Noer, ide-ide reformasi
Islam yang dianjurkan oleh Abduh yang dilancarkan dari Mesir, telah
menarik perhatian santri-santri Indonesia yang sedang belajar di Mekkah.
Termasuk Hasyim tentu saja. Ide reformasi Abduh itu ialah pertama
mengajak ummat Islam untuk memurnikan kembali Islam dari pengaruh dan
praktek keagamaan yang sebenarnya bukan berasal dari Islam. Kedua,
reformasi pendidikan Islam di tingkat universitas; dan ketiga, mengkaji
dan merumuskan kembali doktrin Islam untuk disesuaikan dengan
kebutuhan-kebutuhan kehidupan modern; dan keempat, mempertahankan Islam.
Usaha Abduh merumuskan doktrin-doktrin Islam untuk memenuhi kebutuhan
kehidupan modern pertama dimaksudkan agar supaya Islam dapat memainkan
kembali tanggung jawab yang lebih besar dalam lapangan sosial, politik
dan pendidikan. Dengan alasan inilah Abduh melancarkan ide agar ummat
Islam melepaskan diri dari keterikatan mereka kepada pola pikiran para
mazhab dan agar ummat Islam meninggalkan segala bentuk praktek tarekat.
Syaikh Ahmad Khatib mendukung beberapa pemikiran Abduh, walaupun ia
berbeda dalam beberapa hal. Beberapa santri Syaikh Khatib ketika kembali
ke Indonesia ada yang mengembangkan ide-ide Abduh itu. Di antaranya
adalah KH Ahmad Dahlan yang kemudian mendirikan Muhammadiyah. Tidak
demikian dengan Hasyim. Ia sebenarnya juga menerima ide-ide Abduh untuk
menyemangatkan kembali Islam, tetapi ia menolak pikiran Abduh agar ummat
Islam melepaskan diri dari keterikatan mazhab. Ia berkeyakinan bahwa
adalah tidak mungkin untuk memahami maksud yang sebenarnya dari
ajaran-ajaran Al Qur’an dan Hadist tanpa mempelajari pendapat-pendapat
para ulama besar yang tergabung dalam sistem mazhab. Untuk menafsirkan
Al Qur’an dan Hadist tanpa mempelajari dan meneliti buku-buku para ulama
mazhab hanya akan menghasilkan pemutarbalikan saja dari ajaran-ajaran
Islam yang sebenarnya, demikian tulis Dhofier. Dalam hal tarekat, Hasyim
tidak menganggap bahwa semua bentuk praktek keagamaan waktu itu salah
dan bertentangan dengan ajaran Islam. Hanya, ia berpesan agar ummat
Islam berhati-hati bila memasuki kehidupan tarekat. Dalam
perkembangannya, benturan pendapat antara golongan bermazhab yang
diwakili kalangan pesantren (sering disebut kelompok tradisional),
dengan yang tidak bermazhab (diwakili Muhammadiyah dan Persis, sering
disebut kelompok modernis) itu memang kerap tidak terelakkan. Puncaknya
adalah saat Konggres Al Islam IV yang diselenggarakan di Bandung.
Konggres itu diadakan dalam rangka mencari masukan dari berbagai
kelompok ummat Islam, untuk dibawa ke Konggres Ummat Islam di Mekkah.
Karena aspirasi golongan tradisional
tidak tertampung (di antaranya: tradisi bermazhab agar tetap diberi
kebebasan, terpeliharanya tempat-tempat penting, mulai makam Rasulullah
sampai para sahabat) kelompok ini kemudian membentuk Komite Hijaz.
Komite yang dipelopori KH Abdul Wahab Hasbullah ini bertugas
menyampaikan aspirasi kelompok tradisional kepada penguasa Arab Saudi.
Atas restu Kyai Hasyim, Komite inilah yang pada 31 Februari l926
menjelma jadi Nahdlatul Ulama (NU) yang artinya kebangkitan ulama.
Setelah NU berdiri posisi kelompok
tradisional kian kuat. Terbukti, pada 1937 ketika beberapa ormas Islam
membentuk badan federasi partai dan perhimpunan Islam Indonesia yang
terkenal dengan sebuta MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) Kyai Hasyim
diminta jadi ketuanya. Ia juga pernah memimpin Masyumi, partai politik
Islam terbesar yang pernah ada di Indonesia.
Penjajahan panjang yang mengungkung
bangsa Indonesia, menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk
memperjuangkan martabat bangsa, melalui jalan pendidikan dan organisasi.
Pada tahun 1908 muncul sebuah gerakan yang kini disebut Gerakan
Kebangkitan Nasional. Semangat Kebangkitan Nasional terus menyebar ke
mana-mana, sehingga muncullah berbagai organisai pendidikan, sosial, dan
keagamaan, diantaranya Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) tahun
1916, dan Taswirul Afkar tahun 1918 (dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri
atau Kebangkitan Pemikiran). Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut
Tujjar (Pergerakan Kaum Saudagar). Serikat itu dijadikan basis untuk
memperbaiki perekonomian rakyat.
Dengan adanya Nahdlatul Tujjar, maka
Taswirul Afkar tampil sebagi kelompok studi serta lembaga pendidikan
yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota. Tokoh
utama dibalik pendirian tafwirul afkar adalah, KH Abdul Wahab Hasbullah
(tokoh muda pengasuh PP. Bahrul Ulum Tambakberas), yang juga murid
hadratus Syaikh. Kelompok ini lahir sebagai bentuk kepedulian para ulama
terhadap tantangan zaman di kala itu, baik dalam masalah keagamaan,
pendidikan, sosial, dan politik.
Pada masa itu, Raja Saudi Arabia, Ibnu
Saud, berencana menjadikan madzhab Salafi-Wahabi sebagai madzhab resmi
Negara. Dia juga berencana menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam
yang selama ini banyak diziarahi kaum Muslimin, karena dianggap bid’ah.
Di Indonesia, rencana tersebut mendapat
sambutan hangat kalangan modernis seperti Muhammadiyah di bawah pimpinan
Ahmad Dahlan, maupun PSII di bahwah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto.
Sebaliknya, kalangan pesantren yang menghormati keberagaman, menolak
dengan alasan itu adalah pembatasan madzhab dan penghancuran warisan
peradaban itu. Akibatnya, kalangan pesantren dikeluarkan dari
keanggotaan Kongres Al Islam serta tidak dilibatkan sebagai delegasi
dalam Mu’tamar ‘Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekah, yang
akan mengesahkan keputusan tersebut.
Didorong oleh semangat untuk menciptakan
kebebasan bermadzhab serta rasa kepedulian terhadap pelestarian warisan
peradaban, maka Kyai Hasyim bersama para pengasuh pesantren lainnya,
membuat delegasi yang dinamai Komite Hijaz. Komite yang diketuai KH
Abdul Wahab Hasbullah ini datang ke Saudi Arabia dan meminta Raja Ibnu
Saud untuk mengurungkan niatnya. Pada saat yang hampir bersamaan, datang
pula tantangan dari berbagai penjuru dunia atas rencana Ibnu Saud,
sehingga rencana tersebut digagalkan. Hasilnya, hingga saat ini umat
Islam bebas melaksanakan ibadah di Mekah sesuai dengan madzhab
masing-masing. Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama,
yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermadzhab dan berhasil
menyelamatkan peninggalan sejarah serta peradaban yang sangat berharga.
Mendirikan Nahdlatul Ulama
Mendirikan Nahdlatul Ulama
Tahun 1924, kelompok diskusi Taswirul
Afkar ingin mengembangkan sayapnya dengan mendirikan sebuah organisasi
yang ruang lingkupnya lebih besar. Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari
yang dimintai persetujuannya, meminta waktu untuk mengerjakan salat
istikharah, menohon petunjuk dari Allah.
Dinanti-nanti sekian lama, petunjuk itu
belum datang juga. Kyai Hasyim sangat gelisah. Dalam hati kecilnya ingin
berjumpa dengan gurunya, KH Kholil bin Abdul Latif, Bangkalan.
Sementara nun jauh di Bangkalan sana,
Kyai Khalil telah mengetahui apa yang dialami Kyai Hasyim. Kyai Kholil
lalu mengutus salah satu orang santrinya yang bernama As’ad Syamsul
Arifin (kelak KH R As’ad Syamsul Arifin menjadi pengasuh PP Salafiyah
Syafiiyah Situbondo), untuk menyampaikan sebuah tasbih kepada Kyai
Hasyim di Tebuireng. Pemuda As’ad juga dipesani agar setiba di Tebuireng
membacakan surat Thaha ayat 23 kepada Kyai Hasyim.
Ketika Kyai Hasyim menerima kedatangan
As’ad, dan mendengar ayat tersebut, hatinya langsung bergentar.
”Keinginanku untuk membentuk jamiyah agaknya akan tercapai,” ujarnya
lirih sambil meneteskan airmata.
Waktu terus berjalan, akan tetapi
pendirian organisasi itu belum juga terealisasi. Agaknya Kyai Hasyim
masih menunggu kemantapan hati.
Satu tahun kemudian (1925), pemuda As’ad
kembali datang menemui Hadratus Syaikh. ”Kyai, saya diutus oleh Kyai
Kholil untuk menyampaikan tasbih ini,” ujar pemuda Asad sambil
menunjukkan tasbih yang dikalungkan Kyai Kholil di lehernya. Tangan
As’ad belum pernah menyentuh tasbih sersebut, meskipun perjalanan antara
Bangkalan menuju Tebuireng sangatlah jauh dan banyak rintangan. Bahkan
ia rela tidak mandi selama dalam perjalanan, sebab khawatir tangannya
menyentuh tasbih. Ia memiliki prinsip, ”kalung ini yang menaruh adalah
Kyai, maka yang boleh melepasnya juga harus Kyai”. Inilah salah satu
sikap ketaatan santri kepada sang guru.
”Kyai Kholil juga meminta untuk mengamalkan wirid Ya Jabbar, Ya Qahhar setiap waktu,” tambah As’ad.
Kehadiran As’ad yang kedua ini membuat
hati Kyai Hasyim semakin mantap. Hadratus Syaikh menangkap isyarat bahwa
gurunya tidak keberatan jika ia bersama kawan-kawannya mendirikan
organisai/jam’iyah. Inilah jawaban yang dinanti-nantinya melalui salat
istikharah.
Sayangnya, sebelum keinginan itu terwujud, Kyai Kholil sudah meninggal dunia terlebih dahulu.
Pada tanggal 16 Rajab 1344 H/31 Januari
1926M, organisasi tersebut secara resmi didirikan, dengan nama Nahdhatul
Ulama’, yang artinya kebangkitan ulama. Kyai Hasyim dipercaya sebagai
Rais Akbar pertama. Kelak, jam’iyah ini menjadi organisasi dengan
anggota terbesar di Indonesia, bahkan di Asia.
Sebagaimana diketahui, saat itu (bahkan
hingga kini) dalam dunia Islam terdapat pertentangan faham, antara faham
pembaharuan yang dilancarkan Muhammad Abduh dari Mesir dengan faham
bermadzhab yang menerima praktek tarekat. Ide reformasi Muhammad Abduh
antara lain bertujuan memurnikan kembali ajaran Islam dari pengaruh dan
praktek keagamaan yang bukan berasal dari Islam, mereformasi pendidikan
Islam di tingkat universitas, dan mengkaji serta merumuskan kembali
doktrin Islam untuk disesuaikan dengan kebutuhan kehidupan modern.
Dengan ini Abduh melancarakan ide agar umat Islam terlepas dari pola
pemikiran madzhab dan meninggalkan segala bentuk praktek tarekat.
Semangat Abduh juga mempengaruhi
masyarakat Indonesia, kebanyakan di kawasan Sumatera yang dibawa oleh
para mahasiswa yang belajar di Mekkah. Sedangkan di Jawa dipelopori oleh
KH. Ahmad Dahlan melalui organisasi Muhammadiyah (berdiri tahun 1912).
Kyai Hasyim pada prinsipnya menerima ide
Muhammad Abduh untuk membangkitkan kembali ajaran Islam, akan tetapi
menolak melepaskan diri dari keterikatan madzhab. Sebab dalam
pandangannya, umat Islam sangat sulit memahami maksud Al Quran atau
Hadits tanpa mempelajari kitab-kitab para ulama madzhab. Pemikiran yang
tegas dari Kyai Hasyim ini memperoleh dukungan para Kyai di seluruh
tanah Jawa dan Madura. Kyai Hasyim yang saat itu menjadi ”kiblat” para
Kyai, berhasil menyatukan mereka melalui pendirian Nahdlatul Ulama’ ini.
Pada saat pendirian organisasi pergerakan
kebangsaan membentuk Majelis Islam ‘Ala Indonesia (MIAI), Kyai Hasyim
dengan putranya KH Wahid Hasyim, diangkat sebagai pimpinannya (periode
tahun 1937-1942).
Mendirikan Pesantren Tebuireng
Mendirikan Pesantren Tebuireng
Tahun 1899, Kyai Hasyim membeli sebidang
tanah dari seorang dalang di Dukuh Tebuireng. Letaknya kira-kira 200
meter sebelah Barat Pabrik Gula Cukir, pabrik yang telah berdiri sejak
tahun 1870. Dukuh Tebuireng terletak di arah timur Desa Keras, kurang
lebih 1 km. Di sana beliau membangun sebuah bangunan yang terbuat dari
bambu (Jawa: tratak) sebagai tempat tinggal.
Dari tratak kecil inilah embrio Pesantren
Tebuireng dimulai. Kyai Hasyim mengajar dan salat berjamaah di tratak
bagian depan, sedangkan tratak bagian belakang dijadikan tempat tinggal.
Saat itu santrinya berjumlah 8 orang, dan tiga bulan kemudian meningkat
menjadi 28 orang.
Setelah dua tahun membangun pesantren
Tebuireng, Jombang, Kyai Hasyim kembali harus kehilangan istri
tercintanya, Nyai Khodijah. Saat itu perjuangan mereka sudah menampakkan
hasil yang menggembirakan.
Kyai Hasyim kemudian menikah kembali
dengan Nyai Nafiqoh, putri Kyai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan
Madiun. Dari pernikahan ini Kyai Hasyim dikaruniai 10 anak, yaitu: (1)
Hannah, (2) Khoiriyah, (3) Aisyah, (4) Azzah, (5) Abdul Wahid, (6) Abdul
Hakim (Abdul Kholik), (7) Abdul Karim, (8) Ubaidillah, (9) Mashuroh,
(10) Muhammad Yusuf.
Pada akhir dekade 1920an, Nyai Nafiqoh
wafat sehingga Kyai Hasyim menikah kembali dengan Nyai Masruroh, putri
Kyai Hasan, pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri. Dari
pernikahan ini, Kyai Hasyim dikarunia 4 orang putra-putri, yaitu: (1)
Abdul Qodir, (2) Fatimah, (3) Khotijah, (4) Muhammad Ya’kub.
Jasa Bagi Indonesia
(Resolusi Jihad)
(Resolusi Jihad)
Peran Beliau dalam Kemerdekaan Indonesia
Perjuangan dan Penjajahan Karena
pengaruhnya yang demikian kuat itu, keberadaan Kyai Hasyim menjadi
perhatian serius penjajah. Baik Belanda maupun Jepang berusaha untuk
merangkulnya. Di antaranya ia pernah dianugerahi bintang jasa pada tahun
1937, tapi ditolaknya. Justru Kyai Hasyim sempat membuat Belanda
kelimpungan. Pertama, ia memfatwakan bahwa perang melawan Belanda adalah
jihad (perang suci). Belanda kemudian sangat kerepotan, karena
perlawanan gigih melawan penjajah muncul di mana-mana. Kedua, Kyai
Hasyim juga pernah mengharamkan naik haji memakai kapal Belanda. Fatwa
tersebut ditulis dalam bahasa Arab dan disiarkan oleh Kementerian Agama
secara luas. Keruan saja, Van der Plas (penguasa Belanda) menjadi
bingung. Karena banyak ummat Islam yang telah mendaftarkan diri kemudian
mengurungkan niatnya.
Namun sempat juga Kyai Hasyim mencicipi
penjara 3 bulan pada l942. Tidak jelas alasan Jepang menangkap Kyai
Hasyim. Mungkin, karena sikapnya tidak kooperatif dengan penjajah.
Uniknya, saking khidmatnya kepada gurunya, ada beberapa santri minta
ikut dipenjarakan bersama Kyainya itu.
Masa awal perjuangan Kyai Hasyim di
Tebuireng bersamaan dengan semakin represifnya perlakuan penjajah
Belanda terhadap rakyat Indonesia. Pasukan Kompeni ini tidak segan-segan
membunuh penduduk yang dianggap menentang undang-undang penjajah.
Pesantren Tebuireng, Jombang pun tak luput dari sasaran represif
Belanda.
Pada tahun 1913 M., intel Belanda
mengirim seorang pencuri untuk membuat keonaran di Tebuireng. Namun dia
tertangkap dan dihajar beramai-ramai oleh santri hingga tewas. Peristiwa
ini dimanfaatkan oleh Belanda untuk menangkap Kyai Hasyim dengan
tuduhan pembunuhan.
Dalam pemeriksaan, Kyai Hasyim yang
sangat piawai dengan hukum-hukum Belanda, mampu menepis semua tuduhan
tersebut dengan taktis. Akhirnya beliau dilepaskan dari jeratan hukum.
Belum puas dengan cara adu domba, Belanda
kemudian mengirimkan beberapa kompi pasukan untuk memporak-porandakan
pesantren yang baru berdiri 10-an tahun itu. Akibatnya, hampir seluruh
bangunan pesantren porak-poranda, dan kitab-kitab dihancurkan serta
dibakar. Perlakuan represif Belanda ini terus berlangsung hingga
masa-masa revolusi fisik Tahun 1940an.
Pada bulan Maret 1942, Pemerintah Hindia
Belanda menyerah kepada Jepang di Kalijati, dekat Bandung, sehingga
secara de facto dan de jure, kekuasaan Indonesia berpindah tangan ke
tentara Jepang. Pendudukan Dai Nippon menandai datangnya masa baru bagi
kalangan Islam. Berbeda dengan Belanda yang represif kepada Islam,
Jepang menggabungkan antara kebijakan represi dan kooptasi, sebagai
upaya untuk memperoleh dukungan para pemimpin Muslim.
Salah satu perlakuan represif Jepang
adalah penahanan terhadap Hadratus Syaikh beserta sejumlah putera dan
kerabatnya. Ini dilakukan karena Kyai Hasyim menolak melakukan seikerei.
Yaitu kewajiban berbaris dan membungkukkan badan ke arah Tokyo setiap
pukul 07.00 pagi, sebagai simbol penghormatan kepada Kaisar Hirohito dan
ketaatan kepada Dewa Matahari (Amaterasu Omikami). Aktivitas ini juga
wajib dilakukan oleh seluruh warga di wilayah pendudukan Jepang, setiap
kali berpapasan atau melintas di depan tentara Jepang.
Kyai Hasyim menolak aturan tersebut.
Sebab hanya Allah lah yang wajib disembah, bukan manusia. Akibatnya,
Kyai Hasyim ditangkap dan ditahan secara berpindah–pindah, mulai dari
penjara Jombang, kemudian Mojokerto, dan akhirnya ke penjara Bubutan,
Surabaya. Karena kesetiaan dan keyakinan bahwa Hadratus Syaikh berada di
pihak yang benar, sejumlah santri Tebuireng minta ikut ditahan. Selama
dalam tahanan, Kyai Hasyim mengalami banyak penyiksaan fisik sehingga
salah satu jari tangannya menjadi patah tak dapat digerakkan.
Setelah penahanan Hadratus Syaikh,
segenap kegiatan belajar-mengajar di Pesantren Tebuireng, Jombang vakum
total. Penahanan itu juga mengakibatkan keluarga Hadratus Syaikh
tercerai berai. Isteri Kyai Hasyim, Nyai Masruroh, harus mengungsi ke
Pesantren Denanyar, barat Kota Jombang.
Tanggal 18 Agustus 1942, setelah 4 bulan
dipenjara, Kyai Hasyim dibebaskan oleh Jepang karena banyaknya protes
dari para Kyai dan santri. Selain itu, pembebasan Kyai Hasyim juga
berkat usaha dari KH Wahid Hasyim dan KH Abdul Wahab Hasbullah dalam
menghubungi pembesar-pembesar Jepang, terutama Saikoo Sikikan di
Jakarta.
Tanggal 22 Oktober 1945, ketika tentara
NICA (Netherland Indian Civil Administration) yang dibentuk oleh
pemerintah Belanda membonceng pasukan Sekutu yang dipimpin Inggris,
berusaha melakukan agresi ke tanah Jawa (Surabaya) dengan alasan
mengurus tawanan Jepang, Kyai Hasyim bersama para ulama menyerukan
Resolusi Jihad melawan pasukan gabungan NICA dan Inggris tersebut.
Resolusi Jihad ditandatangani di kantor NU Bubutan, Surabaya. Akibatnya,
meletuslah perang rakyat semesta dalam pertempuran 10 November 1945
yang bersejarah itu. Umat Islam yang mendengar Resolusi Jihad itu keluar
dari kampung-kampung dengan membawa senjata apa adanya untuk melawan
pasukan gabungan NICA dan Inggris. Peristiwa 10 Nopember kemudian
diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional.
Pada tanggal 7 Nopember 1945—tiga hari
sebelum meletusnya perang 10 Nopember 1945 di Surabaya—umat Islam
membentuk partai politik bernama Majelis Syuro Muslim Indonesia
(Masyumi). Pembentukan Masyumi merupakan salah satu langkah konsolidasi
umat Islam dari berbagai faham. Kyai Hasyim diangkat sebagai Ro’is ‘Am
(Ketua Umum) pertama periode tahun 1945-1947.
Selama masa perjuangan mengusir penjajah,
Kyai Hasyim dikenal sebagai penganjur, penasehat, sekaligus jenderal
dalam gerakan laskar-laskar perjuangan seperti GPII, Hizbullah,
Sabilillah, dan gerakan Mujahidin. Bahkan Jenderal Soedirman dan Bung
Tomo senantiasa meminta petunjuk kepada Kyai Hasyim.
Kisah Teladan Beliau
Kesan Akhlak dan Kecerdasan:
Pernah terjadi dialog yang mengesankan
antara dua ulama besar, KH Muhammad Hasyim Asy’ari dengan KH Cholil
Bangkalan, gurunya. “Dulu saya memang mengajar Tuan. Tapi hari ini, saya
nyatakan bahwa saya adalah murid Tuan,” kata Mbah Cholil, begitu Kyai
dari Madura ini populer dipanggil.
Kyai Hasyim menjawab, “Sungguh saya tidak
menduga kalau Tuan Guru akan mengucapkan kata-kata yang demikian.
Tidakkah Tuan Guru salah raba berguru pada saya, seorang murid Tuan
sendiri, murid Tuan Guru dulu, dan juga sekarang. Bahkan, akan tetap
menjadi murid Tuan Guru selama-lamanya.”
Tanpa merasa tersanjung, Mbah Cholil
tetap bersikeras dengan niatnya. “Keputusan dan kepastian hati kami
sudah tetap, tiada dapat ditawar dan diubah lagi, bahwa kami akan turut
belajar di sini, menampung ilmu-ilmu Tuan, dan berguru kepada Tuan,”
katanya. Karena sudah hafal dengan watak gurunya, Kyai Hasyim tidak bisa
berbuat lain selain menerimanya sebagai santri.
Lucunya, ketika turun dari masjid usai
shalat berjamaah, keduanya cepat-cepat menuju tempat sandal, bahkan
kadang saling mendahului, karena hendak memasangkan ke kaki gurunya.
Sesungguhnya bisa saja terjadi seorang
murid akhirnya lebih pintar ketimbang gurunya. Dan itu banyak terjadi.
Namun yang ditunjukkan Kyai Hasyim juga KH Cholil Bangkalan adalah
kemuliaan akhlak. Keduanya menunjukkan kerendahan hati dan saling
menghormati, dua hal yang sekarang semakin sulit ditemukan pada para
murid dan guru-guru kita.
Mbah Cholil adalah Kyai yang sangat
termasyhur pada jamannya. Hampir semua pendiri NU dan tokoh-tokoh
penting NU generasi awal pernah berguru kepada pengasuh sekaligus
pemimpin Pesantren Kademangan, Bangkalan, Madura, ini.
Sedangkan Kyai Hasyim sendiri tak kalah
cemerlangnya. Bukan saja ia pendiri sekaligus pemimpin tertinggi NU,
yang punya pengaruh sangat kuat kepada kalangan ulama, tapi juga
lantaran ketinggian ilmunya. Terutama, terkenal mumpuni dalam ilmu
Hadits. Setiap Ramadhan Kyai Hasyim punya ‘tradisi’ menggelar kajian
hadits Bukhari dan Muslim selama sebulan suntuk. Kajian itu mampu
menyedot perhatian ummat Islam.
Maka tak heran bila pesertanya datang
dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk mantan gurunya sendiri, KH
Cholil Bangkalan. Ribuan santri menimba ilmu kepada Kyai Hasyim. Setelah
lulus dari Tebuireng, tak sedikit di antara santri Kyai Hasyim kemudian
tampil sebagai tokoh dan ulama kondang dan berpengaruh luas. KH Abdul
Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, KH R As’ad Syamsul Arifin, KH Wahid
Hasyim (anaknya) dan KH Achmad Shiddiq adalah beberapa ulama terkenal
yang pernah menjadi santri Kyai Hasyim.
Tak pelak lagi pada abad 20 Tebuireng
merupakan pesantren paling besar dan paling penting di Jawa. Zamakhsyari
Dhofier, penulis buku ‘Tradisi Pesantren’, mencatat bahwa pesantren
Tebuireng adalah sumber ulama dan pemimpin lembaga-lembaga pesantren di
seluruh Jawa dan Madura. Tak heran bila para pengikutnya kemudian
memberi gelar Hadratus-Syaikh (Tuan Guru Besar) kepada Kyai Hasyim.
Mengambil Cincin Gurunya dari Lubang WC
Salah satu rahasia seorang murid bisa
berhasil mendapatkan ilmu dari gurunya adalah taat dan hormat kepada
gurunya. Guru ada lah orang yang punya ilmu. Sedangkan murid adalah
orang yang mendapatkan ilmu dari sang guru. Seorang murid harus berbakti
kepada gurunya. Dia tidak boleh membantah apalagi menentang perintah
sang guru (kecuali jika gurunya mengajarkan ajaran yang tercela dan
bertentangan dengan syariat Islam maka sang murid wajib tidak
menurutinya). Kalau titah guru baii, murid tidak boleh membantahnya.
Inilah yang dilakukan Kyai Hasyim Asy’ari
(Pendiri Nahdlatul ‘Ulama). Beliau nyantri kepada KH Cholil Bangkalan,
Bangkalan. Di pondok milik Kyai Kholil, Kyai Hasyim dididik akhlaknya.
Saban hari, Kyai Hasyim disuruh gurunya angon (merawat) sapi dan
kambing. Kyai Hasyim disuruh membersihkan kandang dan mencari rumput.
Ilmu yang diberikan Kyai Kholil kepada muridnya itu memang bukan ilmu
teoretis, melainkan ilmu pragmatis. Langsung penerapan.
Sebagai murid, Kyai Hasyim tidak pernah
ngersulo (mengeluh) disuruh gurunya angon sapi dan kambing. Beliau
terima titah gurunya itu sebagai khidmat (penghormatan) kepada guru.
Beliau sadar bahwa ilmu dari gunya akan berhasil diperoleh apabila sang
guru ridlo kepada muridnya. Inilah yang dicari Kyai Hasyim, yakni
keridoan guru. Beliau tidak hanya berhadap ilmu teoretis dari Kyai
Kholil tapi lebih dari itu, yang diinginkan adalah berkah dari KH Cholil
Bangkalan.
Kalau anak santri sekarang dimodel
seperti ini, mungkin tidak tahan dan langsung keluar dari pondok. Anak
santri sekarang kan lebih mengutamakan mencari ilmu teoretis. Mencari
ilmu fikih, ilmu hadits, ilmu nahwu shorof, dan sebagainya. Sementara
ilmu “akhlak” terapannya malah kurang diperhatikan.
Suatu hari, seperti biasa Kyai Hasyim
setelah memasukkan sapi dan kambing ke kandangnya, Kyai Hasyim langsung
mandi dan sholat Ashar. Sebelum sempat mandi, Kyai Hasyim melihat
gurunya, Kyai Kholil termenung sendiri. Seperti ada sesuatu yang
mengganjal di hati sang guru. Maka diberanikanlah oleh Kyai Hasyim untuk
bertanya kepada Kyai Kholil.
“Ada apa gerangan wahai guru kok kelihatan sedih,” tanya Kyai Hasyim kepada KH Cholil Bangkalan.
” Bagaimana tidak sedih, wahai muridku.
Cincin pemberian istriku jatuh di kamar mandi. Lalu masuk ke lubang
pembuangan akhir (septictank),” jawab Kyai Kholil dengan nada sedih.
Mendengar jawaban sang guru, Kyai Hasyim
segera meminta ijin untuk membantu mencarikan cincin yang jatuh itu dan
diijini. Langsung saja Kyai Hasyim masuk ke kamar mandi dan membongkar
septictank (kakus). Bisa dibayangkan, namanya kakus dalamnya bagaimana
dan isinya apa saja. Namun Kyai Hasyim karena hormat dan sayangnya
kepada guru tidak pikir panjang. Beliau langsung masuk ke septictank itu
dan dikeluarkan isinya. Setelah dikuras seluruhnya, dan badan Kyai
Hasyim penuh dengan kotoran, akhirnya cincin milik gurunya berhasil
ditemukan.
Betapa riangnya sang guru melihat
muridnya telah berhasil mencarikan cincinnya itu. Sampai terucap doa:
“Aku ridho padamu wahai Hasyim, Kudoakan dengan pengabdianmu dan
ketulusanmu, derajatmu ditinggikan. Engkau akan menjadi orang besar,
tokoh panutan, dan semua orang cinta padamu”.
Demikianlah doa yang keluar dari KH
Cholil Bangkalan. Karena yang berdoa seorang wali, ya mustajab. Tiada
yang memungkiri bahwa di kemudian hari, Kyai Hasyim menjadi ulama besar.
Mengapa bisa begitu? Disamping karena Kyai Hasyim adalah pribadi
pilihan, beliau mendapat “berkah” dari gurunya karena gurunya ridho
kepadanya.
sumber:https://kumpulanbiografiulama.wordpress.com/2013/05/28/biografi-kh-hasyim-asyari-pendiri-nu-tebuireng-jombang/BIOGRAFI SYAICHONA KHOLIL BANGKALAN (MBAH KHOLIL)
SYAICHONA BANGKALAN
KH Abdul Lathif, warga Desa Kemayoran, Kecamatan Kota, Bangkalan,
merasakan kegembiraan karena hari itu, Selasa 11 Jumadil Akhir 1235 H
atau 27 Januari 1820 M, dari rahim istrinya lahir seorang anak laki-laki
yang sehat, diberi nama Muhammad Kholil, yang kelak akan terkenal
dengan nama Mbah Kholil.KH Abdul Lathif sangat berharap anaknya dikemudian hari menjadi pemimpin umat, sebagaimana nenek moyangnya. Mbah Kholil kecil berasal dari keluarga ulama. Ayahnya, KH Abdul Lathif, mempunyai pertalian darah dengan Sunan Gunung Jati. Ayah Abdul Lathif adalah Kiai Hamim, putra dari Kiai Abdul Karim.
Yang disebut terakhir putra Kiai Muharram bin Kiai Asror Karomah bin Kiai Abdullah bin Sayyid Sulaiman. Sayyid Sulaiman cucu Sunan Gunung Jati. Maka tak salah kalau KH. Abdul Lathif mendambakan putranya kelak bisa mengikuti jejak Sunan Gunung Jati, karena memang masih terhitung keturunan.
Mbah Kholil dididik dengan sangat ketat oleh ayahnya. Mbah Kholil kecil memang menunjukkan bakat yang istimewa, kehausannya akan ilmu, terutama ilmu Fiqh dan nahwu. Bahkan ia sudah hafal dengan baik Nazham Alfiyah Ibnu Malik (seribu bait ilmu Nahwu) sejak usia muda. Untuk memenuhi harapan dan juga kehausannya mengenai ilmu Fiqh dan ilmu yang lainnya, maka orang tua Mbah Kholil kecil mengirimnya ke berbagai pesantren untuk menimba ilmu.
Mengawali pengembaraannya, Mbah Kholil muda belajar kepada Kiai Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur. Dari Langitan beliau pindah ke Pondok Pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Kemudian beliau pindah ke Pondok Pesantren Keboncandi. Selama belajar di Pondok Pesantren ini beliau belajar pula kepada Kiai Nur Hasan yang menetap di Sidogiri, 7 kilometer dari Keboncandi.
Kiai Nur Hasan ini, sesungguhnya, masih mempunyai pertalian keluarga dengannya. Jarak antara Keboncandi dan Sidogiri sekitar 7 Kilometer. Tetapi, untuk mendapatkan ilmu, Mbah Kholil muda rela melakoni perjalanan yang terbilang lumayan jauh itu setiap harinya. Di setiap perjalanannya dari Keboncandi ke Sidogiri, ia tak pernah lupa membaca Surat Yasin.
Sebenarnya, bisa saja Mbah Kholil muda tinggal di Sidogiri selama nyantri kepada Kyai Nur Hasan, tetapi ada alasan yang cukup kuat bagi dia untuk tetap tinggal di Keboncandi. Mbah Kholil tinggal di Keboncandi agar bisa nyambi menjadi buruh batik. Dari hasil menjadi buruh batik itulah dia memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Sewaktu menjadi Santri Mbah Kholil telah menghafal beberapa matan, seperti Matan Alfiyah Ibnu Malik (Tata Bahasa Arab). Disamping itu beliau juga seorang Hafidz Al-Quran. Beliau mampu membaca Al-Qur’an dalam Qira’at Sab’ah (tujuh cara membaca Al-Quran).
Kemandirian Mbah Kholil muda juga nampak ketika ia berkeinginan untuk menimba ilmu ke Makkah. Karena pada masa itu, belajar ke Makkah merupakan cita-cita semua santri. Dan untuk mewujudkan impiannya kali ini, lagi-lagi Mbah Kholil muda tidak menyatakan niatnya kepada orangtuanya, apalagi meminta ongkos kepada orangtua.
Kemudian, setelah Mbah Kholil memutar otak untuk mencari jalan keluarnya, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke sebuah pesantren di Banyuwangi. Karena, pengasuh pesantren itu terkenal mempunyai kebun kelapa yang cukup luas. Dan selama nyantri di Banyuwangi ini, Mbah Kholil nyambi menjadi “buruh” pemetik kelapa pada gurunya. Untuk setiap pohonnya, dia mendapat upah 2,5 sen.
Uang yang diperolehnya tersebut dia tabung. Sedangkan untuk makan, Mbah Kholil menyiasatinya dengan mengisi bak mandi, mencuci dan melakukan pekerjaan rumah lainnya, serta menjadi juru masak teman-temannya. Dari situlah Mbah Kholil bisa makan gratis.
Saat usianya mencapai 24 tahun, Mbah Kholil memutuskan untuk pergi ke Makkah. Tetapi sebelum berangkat, Mbah Kholil menikah dahulu dengan Nyai Asyik, putri Lodra Putih.
Setelah menikah, berangkatlah dia ke Mekkah. Dan memang benar, untuk ongkos pelayarannya bisa tertutupi dari hasil tabungannya selama nyantri di Banyuwangi, sedangkan untuk makan selama pelayaran, konon Mbah Kholil berpuasa. Hal tersebut dilakukan Mbah Kholil bukan dalam rangka menghemat uang, akan tetapi untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, agar perjalanannya selamat.
Di Makkah Mbah Kholil belajar dengan Syeikh Nawawi Al-Bantani (Guru Ulama Indonesia dari Banten). Di antara gurunya di Makkah ialah Syeikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Mustafa bin Muhammad Al-Afifi Al-Makki, Syeikh Abdul Hamid bin Mahmud Asy-Syarwani. Beberapa sanad hadits yang musalsal diterima dari Syeikh Nawawi Al-Bantani dan Abdul Ghani bin Subuh bin Ismail Al-Bimawi (Bima, Sumbawa).
Sebagai pemuda Jawa (sebutan yang digunakan orang Arab waktu itu untuk menyebut orang Indonesia) pada umumnya, Mbah Kholil belajar pada para Syeikh dari berbagai madzhab yang mengajar di Masjid Al-Haram. Namun kecenderungannya untuk mengikuti Madzhab Syafi’i tak dapat disembunyikan. Karena itu, tak heran kalau kemudian dia lebih banyak mengaji kepada para Syeikh yang bermadzhab Syafi’i.
Konon, selama di Makkah, Mbah Kholil lebih banyak makan kulit buah semangka ketimbang makanan lain yang lebih layak. Realitas ini bagi teman-temannya, cukup mengherankan. Kebiasaan memakan kulit buah semangka kemungkinan besar dipengaruhi ajaran ngrowot (vegetarian) dari Al-Ghazali, salah seorang ulama yang dikagumi dan menjadi panutannya.
Sewaktu berada di Makkah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Mbah Kholil bekerja mengambil upah sebagai penyalin kitab-kitab yang diperlukan oleh para pelajar.
Sepulangnya dari Tanah Arab, Mbah Kholil dikenal sebagai seorang ahli Fiqh dan Tarekat. Bahkan pada akhirnya, dia pun dikenal sebagai salah seorang Kiai yang dapat memadukan kedua hal itu dengan serasi. Dia juga dikenal sebagai al-Hafidz (hafal Al-Qur’an 30 Juz). Hingga akhirnya, Mbah Kholil dapat mendirikan sebuah pesantren di daerah Cengkubuan, Bangkalan.
Banyak santri yang berdatangan dari desa-desa sekitarnya. Namun, setelah putrinya, Siti Khatimah dinikahkan dengan keponakannya sendiri, yaitu Kiai Muntaha, pesantren di Cengkubuan itu kemudian diserahkan kepada menantunya. Mbah Kholil sendiri mendirikan pesantren lagi di daerah Demangan, pusat kota. Letak Pesantren yang baru itu, hanya selang 1 Kilometer dari Pesantren lama.
Di tempat yang baru ini, Mbah Kholil juga cepat memperoleh santri lagi, bukan saja dari daerah sekitar, tetapi juga dari Tanah Seberang, Pulau Jawa. Santri pertama yang datang dari Jawa tercatat bernama Hasyim Asy’ari, dari Jombang.
Di sisi lain, Mbah Kholil disamping dikenal sebagai ahli Fiqh dan ilmu Alat (nahwu dan sharaf), ia juga dikenal sebagai orang yang waskita atau weruh sak durunge winarah (tahu sebelum terjadi). Malahan dalam hal yang terakhir ini, nama Mbah Kholil lebih dikenal.
Syekh Kholil wafat pada hari Kamis tanggal 29 Ramadhan 1343 H (1925 M). Jenazah beliau disalatkan di Masjid Agung Bangkalan. Kemudian dimakamkan di Pemakaman Martajasah, Bangkalan.
sumber:http://news.okezone.com/read/2014/06/14/157/998745/biografi-syaichona-kholil-bangkalan
KAROMAH KH.ALI MAS'UD PAGERWOJO
+dan+Syaikh+Utsman+al-Ishaqiy.jpg)
Hadhratus Syaikh KH. Utsman al-Ishaqiy bersama Gus Ud
Gus Ud mendapat derajat kewalian itu
sejak masih kecil. Sangat nakal memang dan banyak tingkah hingga membuat
ayahnya sering memarahinya. Sang ayah adalah orang yang alim dan sebagai guru
ngaji di rumahnya. Seringkali saat ayahandanya mengajar ngaji, selalu saja
terdengar gaduh oleh suara-suara teriakan Gus Ud kecil. Hingga sang ayah
memarahinya bahkan memukulnya dengan kayu kecil.
Lantas sang ayah membentak: “Kamu ini banyak tingkahnya, makanya gak
bisa ngaji!”
Karena mendapat olokan ayahnya
seperti itu, maka Gus Ud langsung menimpali: “Ngajar ngajinya saya ganti ya!”
Ayahnya heran dengan ucapan anaknya
yang baru berusia 8 tahunan itu. Gus Ud langsung mengambil kitab kuning ayahnya
tersebut dan langsung membacanya. Meski kitab itu gundul (tidak berharakat),
toh Gus Ud kecil itu lancar membacanya berikut gamblang dalam menjelaskan semua
keterangan kitab itu. “Wah. Subhanallah!”
gumam ayahnya seraya terbengong heran. Sejak itulah sang ayah membiarkan saja
apa yang dilakukan putranya itu
Di Pesantren Sawahpulo daerah
Jatipurwo Surabaya, kira-kira 1 km dari Ampel, pimpinan Kyai Utsman al-Ishaqi
ada pengajian rutin kitab al-Hikam yang dibacakan oleh Kyai Utsman sendiri.
Hampir semua yang ngaji di sana adalah para kyai yang tabarrukan kepada beliau.
Ada hal menarik di sana saat Gus Ud
ikut mengaji. Sudah menjadi tabiatnya, Gus Ud banyak tingkah, kadang berdiri,
duduk, berjalan dan apa saja ia lakukan dan tidak bisa diam. Lalu tiba-tiba Gus
Ud mendekati Kyai Utsman yang sedang asyik membaca kitab al-Hikam itu. Gus Ud
izin untuk meminta kitab yang sedang dipegang Kyai Utsman tadi. Akhirnya kitab
itu pun diberikan kepada Gus Ud.
Kontan saja para jamaah pengajian
itu terbelalak melihat tingkah Gus Ud seperti itu. Banyak jamaah yang berpikir
dalam hatinya: “Mau apa dia meminta kitab
al-Hikam itu? Memangnya dia bisa baca?”
Setelah kitab itu diserahkan kepada
Gus Ud, ternyata kitab itu dibalik sehingga tulisan Arabnya terlihat terbalik.
Dan dengan sangat mantapnya beliau membacakan kitab al-Hikam itu lengkap dengan
penjelasannya meski dengan kitab terbalik. Kejadian ini membuat decak kagum
para jamaah pengajian tersebut. Wallahu
A’lam.
sumber:http://pustakamuhibbin.blogspot.co.id/2013/07/kewalian-kh-ali-masud-pagerwojo-gus-ud.html
sumber:http://pustakamuhibbin.blogspot.co.id/2013/07/kewalian-kh-ali-masud-pagerwojo-gus-ud.html
BIOGRAFI KH. ALI MAS'UD PAGERWOJO
Selama hidupnya, KH Ali Mas’ud sangat ringan tangan. Beliau sering
menjadi rujukan para kiai di Jawa Timur untuk memecahkan problematika
umat Islam. MAKAM Gus Ud, begitu warga Sidoarjo mengenal KH Ali Mas’ud,
terletak di Pagerwojo,Kec Kota Sidoarjo. Gus Ud ikut berkiprah
menyebarkan Islam dengan berdakwah kepada tamu-tamu yang datang ke
rumahnya. Dia memang tak membangun pesantren, tapi muridnya tersebar di
penjuru Jawa dan luar Jawa. Hidayatullah, salah satu cucu keponakan Gus
Ud menuturkan, kakeknya itu memang tidak mau langsung membuka pesantren.
”Kalau menyiarkan agama Islam secara langsung tidak, tapi beliau
memberi wejangan kepada siapa pun tamunya yang datang. Beliau juga
menjadi rujukan kiai yang ada di Jawa Timur untuk memecahkan masalah
terkait agama Islam,” jelasnya kemarin kepada SINDO. Gus Ud,kata
Hidayatullah,lahir pada 1908 di Sidoarjo. Ali Mas’ud kecil yang masih
berusia 5 tahun sudah menunjukkan kelebihannya. Dia tidak pernah
sekolah, tidak bisa membaca dan menulis.Namun dia, lanjut Hidayatullah,
bisa membaca Alquran dan kitab- kitab lainnya sehingga wajar, kalau
beliau jadi rujukan kiai di Jawa Timur untuk memecahkan masalah
keislaman. ”Gus Ud mempunyai Ilmu Laduni sehingga beliau mempunyai
kelebihan dibanding orang lain pada kebanyakan. Sampai beliau wafat pada
1979 sampai sekarang, banyak yang berziarah ke makamnya. Terutama malam
Jumat Legi,” papar Hidayatullah yang juga pemangku Majelis Taklim Gus
Ud. Bagi warga Sidoarjo, ulama yang dulunya akrab dipanggil Gus Ud dan
kini lazim dipanggil Mbah Ud, merupakan ulama yang tidak menyandang
gelar. Pasalnya,sebagai orang yang mempunyai kelebihan, dia tidak mau
menunjukkan. Bahkan,dalam turut menyiarkan agama Islam, dia menggunakan
kelebihannya itu untuk memberi pemahaman bagi umat muslim dan nonmuslim.
Hidayatullah menceritakan, Mbah Ud pernah menulis surat ke KH Rodi,
Krian, terkait permasalahan yang ditanyakan. Karena dia tidak bisa
menulis, di atas kertas putih dia torehkan pensil membentuk garis
bergelombang. Anehnya,KH Rodi bisa mengerti guratan pensil yang
dibubuhkan oleh Mbah Ud. ”Kalau peringatan wafatnya Mbah Ud, 27 Rajab
mesti ramai penziarah. Bagi warga Sidoarjo, Mbah Ud bukan hanya kiai
yang mempunyai kelebihan, bisa mengobati orang sakit dan kelebihan
lainnya. Namun, beliau juga ikut menyiarkan Islam melalui pemikirannya,”
ujar Supriadi, warga Sidoarjo yang kerap berziarah ke makam suami
almarhumah Nyai Dewi itu. Mbah Ud tidak mempunyai keturunan, sehingga
saat ini yang merawat makam dan musala peninggalannya adalah cucu dari
adik dan kakak Mbah Ud.
sumber: http://darul-mustofa.heck.in/biografi-ulama-mbah-ud-pagerwojo.xhtml
sumber: http://darul-mustofa.heck.in/biografi-ulama-mbah-ud-pagerwojo.xhtml
BIOGRAFI KH. ABDUL HAMID PASURUAN

KH. Abdul hamid Lahir pada tahun 1333 H, di Desa Sumber Girang, Lasem, Rembang, Jawa Tengah.Wafat 25 Desember 1985. Pendidikan: Pesantren Talangsari, Jember; Pesantren Kasingan, Rembang, Jateng; Pesantren Termas, Pacitan, Jatim. Pengabdian: pengasuh Pesantren Salafiyah, Pasuruan
Kesabarannya memang diakui tidak hanya
oleh para santri, tapi juga oleh keluarga dan masyarakat serta umat
islam yang pernah mengenalnya. Sangat jarang ia marah, baik kepada
santri maupun kepada anak dan istrinya. Kesabaran Kiai Hamid di hari
tua, khususnya setelah menikah, sebenarnya kontras dengan sifat kerasnya
di masa muda.
“Kiai Hamid dulu sangat keras,” kata Kiai
Hasan Abdillah. Kiai Hamid lahir di Sumber Girang, sebuah desa di
Lasem, Rembang, Jawa Tengah, pada tahun 1333 H. Ia adalah anak ketiga
dari tujuh belas bersaudara, lima di antaranya saudara seibu. Kini, di
antara ke 12 saudara kandungnya, tinggal dua orang yang masih hidup,
yaitu Kiai Abdur Rahim, Lasem, dan Halimah. Sedang dari lima saudara
seibunya, tiga orang masih hidup, yaitu Marhamah, Maimanah dan
Nashriyah, ketiganya di Pasuruan. Hamid dibesarkan di tengah keluarga
santri. Ayahnya, Kiai umar, adaiah seorang ulama di Lasem, dan ibunya
adalah anak Kiai Shiddiq, juga ulama di Lasem dan meninggal di Jember,
Jawa Timur.
Masa Kecil
Kiai Shiddiq adalah ayah KH. Machfudz
Shiddiq, tokoh NU, dan KH. Ahmad Shiddiq, mantan Ro’is Am NU. Keluarga
Hamid memang memiliki keterikatan yang sangat kuat dengan dunia
pesantren. Sebagaimana saudara-saudaranya yang lain, Hamid sejak kecil
dipersiapkan untuk menjadi kiai. Anak keempat itu mula-mula belajar
membaca al-Quran dari ayahnya. Pada umur sembilan tahun, ayahnya mulai
mengajarinya ilmu fiqh dasar.
Tiga tahun kemudian, cucu kesayangan itu
mulai pisah dari orangtua, untuk menimba ilmu di pesantren kakeknya, KH.
Shiddiq, di Talangsari, Jember, Jawa Timur. Konon, demikian penuturan
Kiai Hasan Abdillah, Kiai Hamid sangat disayang baik oleh ayah maupun
kakeknya. Semasih kecil, sudah tampak tanda-tanda bahwa ia bakal menjadi
wali dan ulama besar.
“Pada usia enam tahun, ia sudah bertemu
dengan Rasulullah,” katanya. Dalam kepercayaan yang berkembang di
kalangan warga NU, khususnya kaum sufi, Rasulullah walau telah wafat
sekali waktu menemui orang-orang tertentu, khususnya para wali. Bukan
dalam mimpi saja, tapi secara nyata.
Pertemuan dengan Rasul menjadi semacam
legitimasi bagi kewalian seseorang. Kiai Hamid mulai mengaji fiqh dari
ayahnya dan para ulama di Lasem. Pada usia 12 tahun, ia mulai berkelana.
Mula-mula ia belajar di pesantren kakeknya, KH. Shiddiq, di Talangsari,
Jember. Tiga tahun kemudian ia diajak kakeknya untuk pergi haji yang
pertama kali bersama keluarga, paman-paman serta bibi-bibinya. Tak lama
kemudian dia pindah ke pesantren di Kasingan, Rembang. Di desa itu dan
desa-desa sekitarnya, ia belajar fiqh, hadits, tafsir dan lain lain.
Pada usia 18 tahun, ia pindah lagi ke Termas, Pacitan, Jawa Timur.
Konon, seperti dituturkan anak bungsunya
yang kini menggantikannya sebagai pengasuh Pesantren Salafiyah, H.
Idris, “Pesantren itu sudah cukup maju untuk ukuran zamannya, dengan
administrasi yang cukup rapi. Pesantren yang diasuh Kiai Dimyathi itu
telah melahirkan banyak ulama terkemuka, antara lain KH Ali Ma’shum,
mantan Ro’is Am NU.” Menurut Idris, inilah pesantren yang telah banyak
berperan dalam pembentukan bobot keilmuan Hamid. Di sini ia juga belajar
berbagai ilmu keislaman. Sepulang dari pesantren itu, ia tinggal di
Pasuruan, bersama orangtuanya. Di sini pun semangat keilmuannya tak
pernah Padam. Dengan tekun, setiap hari ia mengikuti pengajian Habib
Ja’far, ulama besar di Pasuruan saat itu, tentang ilmu tasawwuf.
Menjadi Blantik
Hamid menikah pada usia 22 tahun dengan
sepupunya sendiri, Nyai H. Nafisah, putri KH Ahmad Qusyairi. Pasangan
ini dikarunia enam anak, satu di antaranya putri. Kini tinggal tiga
orang yang masih hidup, yaitu H. Nu’man, H. Nasikh dan H. Idris.
Hamid menjalani masa-masa awal kehidupan
berkeluarganya tidak dengan mudah. Selama beberapa tahun ia harus hidup
bersama mertuanya di rumah yang jauh dari mewah. Untuk menghidupi
keluarganya, tiap hari ia mengayuh sepeda sejauh 30 km pulang pergi,
sebagai blantik (broker) sepeda. Sebab, kata ldris, pasar sepeda waktu
itu ada di desa Porong, Pasuruan, 30 km ke arah barat Kotamadya
Pasuruan.
Kesabarannya bersama juga diuji. Hasan
Abdillah menuturkan, Nafisah yang dikawinkan orangtuanya selama dua
tahun tidak patut (tidak mau akur). Namun ia menghadapinya dengan tabah.
Kematian bayi pertama, Anas, telah mengantar mendung di rumah keluarga
muda itu.
Terutama bagi sang istri Nafisah yang
begitu gundah, sehingga Hamid merasa perlu mengajak istrinya itu ke
Bali, sebagai pelipur lara. Sekali lagi Nafisah dirundung kesusahan yang
amat sangat setelah bayinya yang kedua, Zainab, meninggal dunia pula,
padahal umurnya baru beberapa bulan. Lagi-lagi kiai yang bijak itu
membawanya bertamasya ke tempat lain. KH. Hasan Abdillah, adik istri
Kiai Hamid, menuturkan, seperti layaknya keluarga, Kiai Hamid pernah
tidak disapa oleh istrinya selama empat tahun.
Tapi, tak pernah sekalipun terdengar
keluhan darinya. Bahkan sedemikian rupa ia dapat menutupinya sehingga
tak ada orang lain yang mengetanuinya. “Uwong tuo kapan ndak digudo karo
anak Utowo keluarga, ndak endang munggah derajate (Orangtua kalau tidak
pernah mendapat cobaan dari anak atau keluarga, ia tidak lekas naik
derajatnya)”, katanya suatu kali mengenai ulah seorang anaknya yang agak
merepotkan.
Kesabaran beliau juga diterapkan dalam
mendidik anak-anaknya. Menut Idris, tidak pernah mendapat marah, apalagi
pukulan dari ayahnya. Menurut ldris, ayahnya lebih banyak memberikan
pendidikan lewat keteladanan. Nasihat sangat jarang diberikan. Akan
tetapi, untuk hal-hal yang sangat prinsip, shalat misalnya, Hamid sangat
tegas.
Merupakan keharusan bagi anak-anaknya
untuk bangun pada saat fajar menyingsing, guna menunaikan shalat subuh,
meski seringkali orang lain yang disuruh membangunkan mereka, Hamid juga
memberi pengajaran membaca al-Quran dan fiqih pada anak-anaknya di masa
kecil. Namun, begitu mereka menginjak remaja, Hamid lebih suka
menyerahkan anak-anaknya ke pesantren lain.
Bukan hanya kepada anak-anak, tapi juga
istrinya, Hamid memberi pengajaran. Waktunya tidak pasti. Kitab yang
diajarkan pun tidak pasti. Bahkan, ia mengajar tidak secara berurutan
dari bab satu ke bab berikutnya. Pendeknya, ia seperti asal comot kitab,
lalu dibuka, dan diajarkan pada istrinya. Dan lebih banyak, kata Idris,
yang diajarkan adalah kitab-kitab mengenai akhlak, seperti Bidayah
al-Hidayah karya Imam Ghazali, “Tampaknya yang lebih ditekankan adalah
amalan, dan bukan ilmunya itu sendiri,” jelasnya.
Amalan dari kitab itu pula yang
ditekankan Kiai Hamid di Pesantren salafiyah. Kalau pesantren-pesantren
tertentu dikenal dengan spesialisasinya dalam bidang-bidang ilmu
tertentu – misainya alat (gramatika bahasa Arab) atau fiqh, maka
salafiyah menonjol sebagai suatu lembaga untuk mencetak perilaku seorang
santri yang baik.
Di sini, Kiai Hamid mewajibkan para
santrinya shalat berjamaah lima waktu. Sementara jadwal kegiatan
pesantren lebih banyak diisi dengan kegiatan wirid yang hampir memenuhi
jam aktif. Semuanya harus diikuti oleh seluruh santri. Kiai Hamid
sendiri, tidak banyak mengajar, kecuali kepada santri-santri tertentu
yang dipilihnya sendiri. Selain itu, khususnya di masa-masa akhir
kehidupannya, ia hanya mengajar seminggu sekali, untuk umum.
Mushalla pesantren dan pelatarannya
setiap Ahad selalu penuh oleh pengunjung untuk mengikuti pengajian
selepas salat subuh ini. Mereka tidak hanya datang dari Pasuruan, tapi
juga kota-kota Malang, Jember, bahkan Banyuwangi, termasuk Walikota
Malang waktu itu. Yang diajarkan adalah kitab Bidayah al-Hidayah karya
al-Ghazali. Konon, dalam setiap pengajian, ia hanya membaca beberapa
baris dari kitab itu.
Selebihnya adalah cerita-cerita tentang
ulama-ulama masa lalu sebagai teladan. Tak jarang, air matanya mengucur
deras ketika bercerita. Disuguhi Kulit Roti Kiai Hamid memang sosok
ulama sufi, pengagum imam Al-Ghazali dengan kitab-kitabnya lhya ‘Ulum
ad-Din dan Bidayah al-Hidayah. Tapi, corak kesufian Kiai Hamid bukanlah
yang menolak dunia sama sekali. Ia, konon, memang selalu menolak diberi
mobil Mercedez, tapi ia mau menumpanginya. Bangunan rumah dan
perabotan-perabotannya cukup baik, meski tidak terkesan mewah.
Ia suka berpakaian dan bersorban yang
serba putih. Cara berpakaian maupun penampilannya selalu terlihat rapi,
tidak kedodoran. Pilihan pakaian yang dipakai juga tidak bisa dibilang
berkualitas rendah. “Berpakaianlah yang rapi dan baik. Biar saja kamu di
sangka orang kaya. Siapa tahu anggapan itu merupakan doa bagimu,”
katanya suatu kali kepada seorang santrinya. Namun, Kiai Hamid bukanlah
orang yang suka mengumbar nafsu. Justru, kata idris, ia selalu berusaha
melawan nafsu.
Hasan Abdillah bercerita, suatu kali
Hamid berniat untuk mengekang nafsunya dengan tidak makan nasi
(tirakat). Tetapi, istrinya tidak tahu itu. Kepadanya lalu disuguhkan
roti. Untuk menyenangkannya, Hamid memakan roti itu, tapi tidak
semuanya, melainkan kulitnya saja. “O, rupanya dia suka kulit roti,”
pikir istrinya. Esoknya ia membeli roti dalam jumlah yang cukup besar,
lalu menyuguhkan kepada suaminya kulitnya saja. Kiai Hamid tertawa. “Aku
bukan penggemar kulit roti. Kalau aku memakannya kemarin, itu karena
aku bertirakat,” ujarnya.
Konon, berkali-kali Kiai Hamid ditawari
mobil Mercedez oleh H. Abdul Hamid, orang kaya di Malang. Tapi, ia
selalu menolaknya dengan halus. Dan untuk tidak membuatnya kecewa, Hamid
mengatakan, ia akan menghubunginya sewaktu-waktu membutuhkan mobil itu.
Kiai Hamid memang selalu berusaha untuk tidak mengecewakan orang lain,
suatu sikap yang terbentuk dari ajaran idkhalus surur (menyenangkan
orang lain) seperti dianjurkan Nabi. Misalnya, jika bertamu dan sedang
berpuasa sunnah, ia selalu dapat menyembunyikannya kepada tuan rumah,
sehingga ia tidak merasa kecewa. Selain itu, ia selalu mendatangi
undangan, di manapun dan oleh siapapun.
Selain terbentuk oleh ajaran idkhalus
surur, sikap sosial Kiai Hamid terbentuk oleh suatu ajaran (yang
dipahami secara sederhana) mengenai kepedulian sosial islam terhadap
kaum dlu’afa yang diwujudkan dalam bentuk pemberian sedekah. Memang
karikaturis – meminjam istilah Abdurrahman Wahid tentang sifatnya.
Tapi, Kiai Hamid memang bukan seorang
ahli ekonomi yang berpikir secara lebih makro. Walau begitu, kita dapat
memperkirakan, sikap sosial Kiai Hamid bukan hanya sekadar refleksi dari
motivasi keagamaan yang “egoistis”, dalam arti hanya untuk mendapat
pahala, dan kemudian merasa lepas dari kewajiban. Kita mungkin dapat
melihat, betapa ajaran sosial islam itu sudah membentuk tanggung jawab
sosial dalam dirinya meski tidak tuntas.
Ajaran Islam, tanggung jawab sosial
mula-mula harus diterapkan kepada keluarga terdekat, kemudian tetangga
paling dekat dan seterusnya. Urut-urutan prioritas demikian tampak pada
Kiai Hamid. Kepada tetangga terdekat yang tidak mampu, konon ia juga
memberikan bantuannya secara rutin, terutama bila mereka sedang
mempunyai hajat, apakah itu untuk mengawinkan atau mengkhitan anaknya.
H. Misykat yang mengabdi padanya hingga
ia meninggal, bercerita bahwa bila ada tetangga yang sedang punya hajat,
Kiai Hamid memberi uang RP. 10.000 plus 10 kg. beras. Islam
mengajarkan, hari raya merupakan hari di mana umat Islam dianjurkan
bergembira sebagai rasa syukur setelah menunaikan lbadah puasa sebulan
penuh. Menjelang hari raya, sebagai layaknya seorang ulama, Kiai Hamid
tidak menerima hadiah dan zakat fitri.
sumber: https://kumpulanbiografiulama.wordpress.com/2013/01/11/biografi-kh-abdul-hamid-pasuruan-jawa-timur/
My biografi
Kenalin namaku M.lutfi aliando lahir di sidoarjo tanggal 22 oktober 2000. hobiku adalah tidur, jangan di kira orang yg hobinya tidur itu pemalas, karena orang itu tidak bisa dilihat karakternya hanya dari sisi luarnya saja. Aku sekarang tinggal di pesantren kwagean, meskipun dipesantren ku tergolong salafy tapi disana juga tak kalah modern dengan berbagai fasilitasnya. cita-cita ku yaitu ingin jadi wong mbeneh(jawa),karena itu aq mondok di pesantren ini.




profil pak hedi pramuktiono
Trimakasih pak HEDI PRAMUKTIONO yg selalu sabar mengajar kami, kami minta maaf jika punya salah dan meminta doa restu agar dapat mengerjakan UN dengan lancar dan mendapatkan hasil yang memuaskan # Aminnnnn
sumber : http://linofsar.blogspot.co.id/2015/04/profil-pak-hedi-pramuktiono.html
Langganan:
Postingan (Atom)
